
Kepalaku berdenyut-denyut mengikuti hentakan musik yang masih bergema di telinga. Dunia berputar saat Kenny menggendongku masuk ke dalam apartemen, tubuhku lemas bagai boneka kain. Dinginnya udara malam yang menyentuh kulitku sama sekali tidak berhasil menyadarkanku dari kabut alkohol dan keputusasaan.
Dia membaringkanku di atas kasur dengan hati-hati. Matanya, dalam remang-remang cahaya lampu tidur, memandangiku dengan perasaan campur aduk—khawatir, marah, dan sesuatu yang lain... sesuatu yang dalam dan berbahaya.
"Kenny..." gumamku, suaraku serak. Tanganku meraih kerah bajunya, menariknya mendekat. Gairah palsu dari alkohol dan kebutuhan untuk melupakan segala rasa sakit membuatku bergerak tanpa kendali. "Tetaplah di sini. Buat aku lupa."
Aku menciumnya lagi, lebih dalam kali ini, dengan segala keputusasaan yang menggelegak dalam darahku. Tanganku meraba punggungnya yang kokoh, berusaha mendekatkan tubuhnya padaku.
Tapi kali ini, Kenny tidak menanggapinya. Tubuhnya kaku, dan setelah beberapa saat yang terasa seperti keabadian, dia dengan perlahan melepaskan ciumanku. Tangannya yang kuat tapi lembut menahan pundakku, menjaga jarak antara kami.
"Tidak, Judith," ucapnya, suaranya rendah namun tegas, bagai sejumput kenyataan di tengah mimpiku yang kacau. "Tidak seperti ini."
"Aku ingin ini," bantahku, mencoba mendekat lagi, tapi cengkramannya tidak bergeming.
"Kau tidak menginginkanku. Kau hanya ingin melarikan diri," katanya, menatapku tajam. Matanya yang biru itu seolah bisa melihat langsung ke dalam jiwa yang sedang berantakan. "Dan aku tidak akan menjadi pelarianmu. Aku tidak akan mengambilmu saat kau bahkan tidak bisa mengingat namamu sendiri besok pagi."
"Jadi kau tidak menginginkanku?" tanyaku, suara bergetar. Rasanya seperti penolakan terakhir di tengah tumpukan kehancuranku.
Napas Kenny berat. "Aku menginginkanmu lebih dari yang bisa kau bayangkan," desisnya, dan untuk sesaat, kulihat api yang sama yang kurasakan, berkobar di matanya. Tapi dia menghela napas, dan api itu padam, digantikan oleh tekad yang membatu. "Tapi aku menginginkan semua dirimu, Judith. Bukan hanya tubuhmu yang terluka dan pikiranmu yang mabuk. Aku ingin kau sadar. Aku ingin kau memilihku dengan mata terbuka, bukan karena kau putus asa."
Dia berdiri dari kasur, melepaskan cengkramanku dengan lembut tapi pasti. "Tidurlah. Kita akan bicara besok."
Dia berbalik dan berjalan menuju pintu. Aku mencoba duduk, mencoba memprotes, tapi dunia berputar semakin kencang. Kegelapan mulai menyapu pinggiran pandanganku.
"Kenny..." panggilku lemah, suara terakhir sebelum aku tenggelam.
Dia berhenti di ambang pintu, menoleh sebentar. "Tidur, Judith."
Pintu tertutup dengan bunyi klik yang lembut. Dan aku, akhirnya, menyerah pada alkohol dan kelelahan, jatuh pingsan di atas kasur, sendirian dengan mimpi buruk dan janji yang tersisa di udara: bahwa ada seseorang yang cukup peduli untuk menolakku, ketika yang kuinginkan hanyalah disetujui.
***
Pagi menusuk mataku dengan kejam. Kepalaku berdenyut-denyut, mengingatkan pada setiap tegukan alkohol semalam. Aku menyusuri lorong menuju ruang tamu, berharap menemui kesendirian dan kopi yang kuat.
Tapi Kenny sudah ada di sana. Duduk tegak di sofa, memegang cangkir kopi, matanya mengikutiku sejak aku muncul. Aku tersadar, pakaianku hanya tersisa tank top dan celana dalam. Pipiku memanas. Apakah kami...? Ingatanku samar. Ciuman di klub. Desahan di kamar. Tangannya yang menolak.
"Dengar—" mulutku kering.
"Tidak," potongnya, suaranya datar. "Tidak terjadi apa-apa. Aku tidak menyentuhmu dalam keadaan seperti itu."
Rasa lega yang aneh bercampur dengan kecewa. Aku mengerutkan kening, kesal. Kesal padanya karena selalu terkendali. Kesal pada diriku sendiri karena berharap sesuatu terjadi, atau karena berharap tidak terjadi? Aku membalikkan badan, masuk ke kamar mandi, dan mengunci pintu.
Dengan mata tertutup, kubiarkan air menghujam tubuhku, mencuciku dari sisa mabuk dan rasa malu. Lalu, suara pintu kamar mandi terbuka. Kenny berdiri di sana, wajahnya serius. Tanpa sepatah kata pun, dia melepas kaus dan celananya.
"Kau pikir ini lucu?" bentakku, mencoba menutupi tubuhku dengan tangan.
Dia tidak menjawab. Dia hanya melangkah ke bawah shower, air membasahi rambut hitamnya yang kemudian terurai di dahinya. Tubuhnya kekar, berotot, dan di antara kedua pahanya...
Napasku tersangkut. Itu... jauh lebih besar dari yang pernah kulihat. Jauh lebih besar dari Nicholas.
Dia mendekat, menatapku dalam-dalam sementara air menghujani kami berdua.
"Alasan sebenarnya aku tidak menyentuhmu tadi malam," bisiknya, suaranya parau, "bukan hanya karena kau mabuk." Tangannya yang basah meraih tanganku, membawanya perlahan ke bawah, ke tubuhnya yang keras dan membara. Aku terengah. "Karena aku tahu, dengan ukuranku yang seperti ini," desisnya, sambil tangannya memandu jariku menyentuh panjang dan kekarnya, "aku bisa benar-benar melukaimu jika kau tidak siap. Dan aku tidak mau melukaimu, Judith. Tidak seperti itu."
Aku terpana, tidak bisa bergerak, tidak bisa berpikir. Di bawah pancuran air yang terus mengalir, sentuhan itu terasa lebih intim daripada hubungan seks mana pun yang pernah kumiliki. Ini adalah sebuah pengakuan. Sebuah peringatan. Dan sebuah janji—bahwa di balik ketenangannya, ada kekuatan yang bisa menghancurkanku, atau justru mengangkatku, tergantung pilihanku.
"Aku... aku mengerti," akhirnya bisikku, suaraku gemetar.
Dia mengangguk, melepaskan tanganku. "Sekarang, mandi. Aku akan buatkan sarapan." Dia mematikan shower, melangkah keluar, meninggalkanku sendirian di bawah sisa tetesan air, dengan tubuh yang bergetar dan pikiran yang lebih kacau dari semalam.
***


